Sabtu, 27 Juli 2013

SIKLUS MENSTRUASI

  Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut : Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada saat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel de Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel de Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus.
Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali.

hormones1
Gambar 1. Siklus Menstruasi


Siklus mentruasi ini melibatkan kompleks hipotalamus-hipofisis-ovarium.
fisio1























Gambar 2. Kompleks Hipotalamus-Hipofisis-Ovarium
Sistem hormonal yang mempengaruhi siklus menstruasi adalah:
1. FSH-RH (follicle stimulating hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH
2. LH-RH (luteinizing hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan LH
3. PIH (prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk mengeluarkan prolaktin
fisio2 
Gambar 3. Siklus Hormonal

Pada tiap siklus dikenal 3 masa utama yaitu:
1. Masa menstruasi yang berlangsung selama 2-8 hari. Pada saat itu endometrium (selaput rahim) dilepaskan sehingga timbul perdarahan dan hormon-hormon ovarium berada dalam kadar paling rendah
2. Masa proliferasi dari berhenti darah menstruasi sampai hari ke-14. Setelah menstruasi berakhir, dimulailah fase proliferasi dimana terjadi pertumbuhan dari desidua fungsionalis untuk mempersiapkan rahim untuk perlekatan janin. Pada fase ini endometrium tumbuh kembali. Antara hari ke-12 sampai 14 dapat terjadi pelepasan sel telur dari indung telur (disebut ovulasi)
3. Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya ovulasi. Hormon progesteron dikeluarkan dan mempengaruhi pertumbuhan endometrium untuk membuat kondisi rahim siap untuk implantasi (perlekatan janin ke rahim)

Daur Menstruasi
untitled-12

Masa Subur
Masa subur adalah masa dimana akan terjadi kehamilan pada saat fertilisasi. Pada masa itulah, sel telur yang dihasilkan berada dalam keadaan siap untuk dibuahi.
untitled-21

Selasa, 23 Juli 2013

Tahap Tumbuh Kembang Bayi Setiap Usianya


Pertumbuhan Bayi: Tahap Tumbuh Kembang Bayi Setiap UsianyaPertumbuhan bayi dari awal ia lahir dari hari ke hari tentu tidak akan Anda lewatkan begitu saja, terutama bagi Anda seorang ibu. Mengikuti dan memperhatikan perkembangan buah hati memang sangat menyenangkan terlebih bagi Anda yang menjadi orangtua baru. Melihat proses tumbuh kembang buah hati secara bertahap tentu akan menjadi suatu hal yang berkesan, karena di setiap usianya Anda melihat perkembangannya terus bertambah.
      Tidak semua bayi memiliki tumbuh kembang yang sama, karena tentu berbeda-beda faktor pertumbuhannya. Tetapi berbeda pula dengan bayi yang tumbuh dan berkembang dengan sehat dan normal. Namun, jika Anda khawatir karena tumbuh kembang si kecil berbeda dengan bayi lainnya, seperti lebih lambat atau lebih cepat dari pertumbuhan umumnya, bisa Anda konsultasikan dengan dokter.
Berikut tahapan pertumbuhan bayi pada setiap usianya :

Usia 1 bulan
  • Di hari-hari pertama setelah kelahiran, bayi belum bisa membuka matanya. Namun setelah berjalan beberapa hari kemudian, ia akan bisa melihat pada jarak 20 cm.
  • Bulan pertama ini bayi akan memulai adaptasinya dengan lingkungan baru
  • Memiliki gerakan refleks alami.
  • Memiliki kepekaan terhadap sentuhan.
  • Secara refleks kepalanya akan bergerak ke bagian tubuh yang disentuh.
  • Sedikit demi sedikit sudah bisa tersenyum.
  • Komunikasi yang digunakan adalah menangis. Arti dari tangisan itu sendiri akan Anda ketahui setelah mengenal tangisannya, apakah ia lapar, haus, gerah, atau hal lainnya.
  • Peka terhadap sentuhan jari yang disentuh ke tangannya hingga ia memegang jari tersebut.
  • Tiada hari tanpa menghabiskan waktunya dengan tidur.
Usia 2 bulan
  • Sudah bisa melihat dengan jelas dan bisa membedakan muka dengan suara.
  • Bisa menggerakkan kepala ke kiri atau ke kanan, dan ke tengah.
  • Bereaksi kaget atau terkejut saat mendengar suara keras.
Usia 3 bulan
  • Sudah mulai bisa mengangkat kepala setinggi 45 derajat.
  • Memberikan reaksi ocehan ataupun menyahut dengan ocehan.
  • Tertawanya sudah mulai keras.
  • Bisa membalas senyum di saat Anda mengajaknya bicara atau tersenyum.
  • Mulai mengenal ibu dengan penglihatannya, penciuman, pendengaran, serta kontak.
Usia 4 bulan
  • Bisa berbalik dari mulai telungkup ke terlentang.
  • Sudah bisa mengangkat kepala setinggi 90 derajat.
  • Sudah bisa menggenggam benda yang ada di jari jemarinya.
  • Mulai memperluas jarak pandangannya.
Usia 5 bulan
  • Dapat mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil.
  • Mulai memainkan dan memegang tangannya sendiri.
  • Matanya sudah bisa tertuju pada benda-benda kecil.
Usia 6 bulan
  • Bisa meraih benda yang terdapat dalam jangkauannya.
  • Saat tertawa terkadang memperlihatkan kegembiraan dengan suara tawa yang ceria.
  • Sudah bisa bermain sendiri.
  • Akan tersenyum saat melihat gambar atau saat sedang bermain.
Usia 7 bulan
  • Sudah bisa duduk sendiri dengan sikap bersila.
  • Mulai belajar merangkak.
  • Bisa bermain tepuk tangan dan cilukba.
Usia 8 bulan
  • Merangkak untuk mendekati seseorang atau mengambil mainannya.
  • Bisa memindahkan benda dari tangan satu ke tangan lainnya.
  • Sudah bisa mengeluarkan suara-suara seperti, mamama, bababa, dadada, tatata.
  • Bisa memegang dan makan kue sendiri.
  • Dapat mengambil benda-benda yang tidak terlalu besar.
Usia 9 bulan
  • Sudah mulai belajar berdiri dengan kedua kaki yang juga ikut menyangga berat badannya.
  • Mengambil benda-benda yang dipegang di kedua tangannya.
  • Mulai bisa mencari mainan atau benda yang jatuh di sekitarnya.
  • Senang melempar-lemparkan benda atau mainan.
Usia 10 bulan
  • Mulai belajar mengangkat badannya pada posisi berdiri.
  • Bisa menggenggam benda yang dipegang dengan erat.
  • Dapat mengulurkan badan atau lengannya untuk meraih mainan.
Usia 11 bulan
  • Setelah bisa mengangkat badannya, mulai belajar berdiri dan berpegangan dengan kursi atau meja selama 30 detik.
  • Mulai senang memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
  • Bisa mengulang untuk menirukan bunyi yang didengar.
  • Senang diajak bermain cilukba.
Usia 12 bulan
  • Mulai berjalan dengan dituntun.
  • Bisa menyebutkan 2-3 suku kata yang sama.
  • Mengembangkan rasa ingin tahu, suka memegang apa saja.
  • Mulai mengenal dan berkembang dengan lingkungan sekitarnya.
  • Reaksi cepat terhadap suara berbisik.
  • Sudah bisa mengenal anggota keluarga.
  • Tidak cepat mengenal orang baru serta takut dengan orang yang tidak dikenal/asing.
Pada tahap tumbuh kembang inilah, Anda bisa melihat pertumbuhan bayi di setiap usianya. Baik normal atau tidaknya, semua tergantung bagaimana cara Anda merawat si kecil dan cara penanganannya sedari dini. Oleh karena itu, sejak dini pun penting bagi Anda untuk selalu memberikan gizi dan nutrisi yang terbaik bagi buah hati, serta merawat dan mengasuh dengan penuh kasih sayang.

Cegah dan Atasi perut Kembung pada Bayi Baru Lahir


Perut bayi baru lahir memang telihat agak buncit, namun kondisi ini merupakan hal yang normal. Oleh sebab itu, Bunda tidak perlu merasa khawatir atau bingung saat melihat kondisi tersebut karena dalam waktu beberapa bulan kondisi tersebut akan berangsur-angsur menghilang.
Akan tetapi, Bunda harus tetap berhati-hati karena sistem pencernaan bayi baru lahir belum berkembang secara sempurna sehingga sangat mudah terserang gangguan pencernaan seperti perut kembung. Untuk mengetahui apakah si kecil mengalami perut kembung atau tidak, Bunda dapat menepuk-nepuk perutnya secara perlahan. Jika perut si kecil mengeluarkan suara seperti “bung bung bung”, maka ia mengalami perut kembung. Perut kembung pada si kecil bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya karena ASI yang berlimpah. Si kecil belum mahir menyusu sehingga ia cenderung menelan ASI secara cepat sambil menelan gelembung-gelembung udara.
Untuk mengatasinya, Bunda perlu mengetahui cara perawatan bayi baru lahir yang mengalami perut kembung dengan memahami tips cara mengatasi dan mencegahnya.
Untuk Mengatasinya:
a.   Setelah diberi ASI, sendawakan si kecil dengan cara meletakkannya di pangkuan Bunda dengan posisi tengkurap sambil mengusap lembut punggungnya.
b.  Bunda juga bisa menggendong si kecil dengan posisi tubuh menghadap Bunda, dan usahakan agar perut si kecil menempel ke dada Bunda.
c.   Baringkan si kecil dengan posisi telentang, lalu teteskan baby oil ke jari telunjuk dan jari tengah Bunda. Lalu, usapkan dengan lembut ke perut si kecil sambil memijatnya searah jarum jam. Lakukan pijatan ini sekitar 1 jam setelah si kecil menyusui.
Untuk Mencegahnya:
a.   Batasi konsumsi buah asam saat menyusui.
b.  Batasi konsumsi kacang-kacangan, seperti walnut, kacang tanah, kecang mete, hazelnut, dan kacang kedelai, serta hasil olahannya.
c.   Batasi konsumsi olahan susu dan hasil olahannya seperti es krim, keju, yoghurt dan mentega. Hal ini disebabkan karena zat laktosa pada susu jika diuraikan akan menghasilkan gas.
Itulah beberapa penjelasan mengenai cara perawatan bayi baru lahir yang mengalami perut kembung. Dengan mengetahui tips mengatasi dan mencegah perut kembung pada si kecil yang baru lahir, diharapkan Bunda menanganinya dengan tanpa panik