Alat Kontrasepsi
Dalam Rahim (AKDR)
atau Intra-Uterine Device
(IUD) adalah
alat kontrasepsi yang
dimasukkan kedalam rahim
yang
bentuknya bermacam-macam, terbuat
dari plastik yang
dililit tembaga atau
tembaga bercampur
perak yang dapat
berisi hormon. Waktu
penggunaannya
bisa mencapai 10 tahun.
Cara Kerja :
Ø
Mencegah masuknya spermatozoa / sel
mani ke saluran tuba
Ø
Lilitan logam menyebabkan reaksi anti
fertilitas.
Efektifitas : Sekitar 99 %.
Keuntungan :
·
Praktis dan ekonomis
·
Efektivitas tinggi (angka kegagalan
kecil)
·
Kesuburan segera kembali jika
dibuka
·
Tidak harus mengingat seperti
kontrasepsi pil
·
Tidak mengganggu pemberian
ASI.
Kerugian :
Dapat keluar sendiri jika IUD
tidak cocok dengan ukuran rahim pemakai.
Cara Penggunaan :
Pemasangan IUD
sebaiknya dilakukan pada
saat menstruasi. Pemilihan
IUD yang akan digunakan
tergantung :
1. IUD yang
dipasang harus mempunyai
efektivitas kontraseptif yang
tinggi dan angka kegagalan serta efek samping yang rendah
2. Prinsip
yang penting adalah
IUD harus mudah
dipasang , tetapi
tidak bisa lepas sendiri (ekspulsi)
3. Ukuran IUD harus
sesuai dengan besar rahim
4. Riwayat pemakaian IUD
jenis tertentu sebelumnya
Yang Tidak Boleh Menggunakan / Kontra Indikasi
:
·
Kehamilan
·
Gangguan perdarahan
·
Peradangan alat kelamin
·
Kecurigaan kanker pada alat kelamin
·
Tumor jinak rahim
·
Radang panggul.
Efek / Akibat Samping :
·
Terjadi perdarahan yang lebih
banyak dan lebih lama pada masa menstruasi
·
Keluar bercak-bercak darah
(spotting) setelah 1 atau 2 hari pemasangan
·
Keram / nyeri selama menstruasi
·
Keputihan.
Jenis-jenis IUD dalam Program
KB Nasional :
·
Lippes Loop (A, B, C dan D)
·
Copper T (220 dan 380 Ag)
·
Multi Load (Mini, Short dan
Standard)
Kunjungan Ulang :
·
Pemakai harus
datang ke klinik
dalam 1 minggu
- 6 minggu
untuk pengecekan
·
Jika ada keluhan atau masalah,
pemakai harus segera kembali ke klinik.
ALATDAN BAHAN:
1. IUD dan Inserter
2. sarung tangan
3. kain steril (duk)
lubang
4. spekulum
5. tenakulum (cunam
peluru)
6. pinset
7. klem
8. sonde rahim
9. gunting
PROSEDUR TINDAKAN / PELAKSANAAN
·
Periksalah apakah alat
– alat sudah
disiapkan dengan lengkap
dan sudah disterilkan
·
Memberi salam dan anamnesis
seperlunya
Ada dua cara pemasangan atau insersi IUD,
yaitu cara dorong dan cara tarik.
Cara dorong
digunakan untuk IUD
Lippes Loop, sedangkan
cara tarik
digunakan untuk IUD Copper-T.
Teknik pemasangan IUD lippes loop (cara dorong)
·
Akseptor dipersilahkan berbaring
dengan posisi litotomi, tangan ada di samping badan atau diatas kepala agar
kedudukannya lebih santai dan otot tidak tegang
·
Untuk mensterilkan daerah vulva dan
sekitarnya, dilakukan toilet dengan bahan
– bahan desinfektan.
Agar tidak mudah
terkena kontaminasi dari kulit di sekitar alat genitalia pada
saat pemasangan IUD, maka dipasang duk (kain) steril yang berlubang
·
Spekulum yang ukurannya sesuai
dipasang secara hati-hati pada vagina, sampai
porsio dapat ditampakkan
dengan jelas. Sekali
lagi diamati apakah ada
kelainan pada porsio
dan vagina yang
merupakan kontra indikasi pemasangan
IUD. Rongga vagina
dan permukaan porsio dibersihkan dibersihkan dengan bahan
desinfektan.
·
Dengan hati-hati
porsio bagian depan
dijepit dengan tenakulum,
agar porsio dapat
terfiksasi. Dilakukan sondase
rongga rahim dengan
sonde rahim, perhatikan kelengkungan
sonde terhadap posisi
dan kedudukan uterus (ante
atau retrofleksi). Tujuan
melakukan sondase adalah mengetahui arah
serta panjang rongga
rahim, sehingga dapat menentukan ukuran
IUD yang harus
dipasang dan kedudukan
elips penghenti pada inserter.
·
IUD
Lippes Loop yang
berbentuk seperti spiral,
direndam lebih dahulu dalam
bahan desinfektan (biasanya
larutan yodium). IUD
diregangkan sehingga hampir lurus dan dimasukkan ke dalam inserter dari
ujung yang menghadap pasien. Secara
perlahan, IUD dalam
inserter didorong sedemikian rupa
sehingga benang IUD keseluruhannya masuk
ke dalam inserter dan ujung
IUD mencapai tepat
sejajar dengan ujung
inserter yang menghadap ke arah pasien.
·
Tangan kiri pemasang memegang pegangan tenakulum. Tabung inserter yang didalamnya
sudah ada IUD
dan pendorong Inserter
secara halus dimasukkan ke
dalam rongga rahim
melalui orifisium uteri
eksternum dengan tangan kanan
sampai melalui kanalis
servikalis (tidak sampoai fundus). Dengan hati-hati IUD didorong dengan
pendorong inserter dan secara bersamaan tabung inserter ditarik perlahan keluar
rongga rahim. Tenakulum dilepas, dan
diperiksa apakah bekas
jepitan pada porsio mengeluarkan darah.
Darah yang keluar
dari luka bekas
jepitan dan keluar dari
orifisium uteri eksternum
dibersihkan dengan kasa
kering. Benang IUD yang
terlalu panjang dipotong
dengan gunting, sehingga benang yang
tertinggal terjulur dari
orifisium uteri eksternum
sampai kira-kira 2 atau
3 cm dari
introitus vagina. Dengan
bahan desinfektan dilakukan desinfeksi
pada daerah orifisium
uteri eksternum dan
luka bekas tenakulum.
·
Spekulum
dilepas dan sebelum
mengakhiri pemasangan, dilakukan pemeriksaan colok
vagina untuk memastikan
bahwa seluruh IUD
sudah masuk ke dalam
rongga rahim sehingga
ujung IUD tidak
teraba lagi, serta untuk
menempatkan benang IUD pada forniks anterior vagina agar tidak memberikan keluhan
pada suami saat koitus.
·
Setelah selesai
pemasangan ditanyakan pada
akseptor, apakah cukup nyaman dan tidak merasa pusing atau sakit perut
yang berlebihan. Awasi juga keadaan umum akseptor sesudah pemasangan IUD.
TEKNIK PEMASANGAN
IUD COPPER-T (CARA TARIK)
·
Akseptor dipersilahkan berbaring dengan posisi litotomi,
tangan ada di
samping badan atau
di atas kepala
agar kedudukannya lebih santai dan otot tidak tegang.
·
Untuk mensterilkan daerah vulva dan
sekitarnya, dilakukan toilet dengan bahan
– bahan desinfektan.
Agar tidak mudah
terkena kontaminasi dari kulit di sekitar alat genitalia pada
saat pemasangan IUD, maka dipasang duk (kain) steril yang berlubang Spekulum yang ukurannya sesuai dipasang secara hati-hati pada
vagina, sampai porsio
dapat ditampakkan dengan
jelas. Sekali lagi
diamati apakah ada kelainan
pada porsio dan
vagina yang merupakan
kontra indikasi pemasangan IUD.
Rongga vagina dan
permukaan porsio dibersihkan
dibersihkan dengan bahan desinfektan.
·
Dengan hati-hati
porsio bagian depan
dijepit dengan tenakulum,
agar porsio dapat
terfiksasi. Dilakukan sondase
rongga rahim dengan
sonde rahim, perhatikan kelengkungan
sonde terhadap posisi
dan kjedudukan uterus (ante atao retrofleksi).
Tujuan melakukan sondase
adalah mengetahui arah serta
panjang rongga rahim,
sehingga dapat menentukan ukuran
IUD yang harus
dipasang dan kedudukan
elips penghenti pada inserter.
·
Setelah
kemasan dibuka, bagian
sayap dari IUD
Cu-T dilipat ke
arah pangkalnya dan
ikut dimasukkan ke
dalam inserter. Cu-T
yang terlipat ini harus
sesegera mungkin dipasangkan
pada akseptor, agar kedudukannya tidak
tidak menetap (terlipat).
Lebih dianjurkan agar pelipatan ini
dilakukan pada saat
masih ada dalam
kemasan atau kemasan belum
dibuka, sehingga lebih menjamin sterilitasnya.
·
Tangan kiri pemasang memegang pegangan tenakulum. Tabung inserter yang didalamnya
sudah ada IUD
dan pendorong inserter
secara halus dimasukkan ke
dalam rongga rahim
melalui orifisium uteri
eksternum dengan tangan kanan.
Pada waktu memasukkan
inserter dengan IUD di
dalamnya, harus sampai
elips penghenti tertahan
oleh serviks uteri, sehingga ujung
inserter telah mencapai
fundus. Dengan menahan pendorong inserter,
maka IUD dapat
dipasang dan tertinggal
di dalam kavum uteri.
·
Tenakulum dilepas,
dan diperiksa apakah
bekas jepitan pada
porsio mengeluarkan darah. Darah yang
keluar dari luka
bekas jepitan dan keluar
dari orifisium uteri
eksternum dibersihkan dengan
kasa kering. Benang IUD
yang terlalu panjang
dipotong dengan gunting,
sehingga benang yang tertinggal
terjulur dari orifisium
uteri eksternum sampai kira-kira 2
atau 3 cm
dari introitus vagins.
Dengan bahan desinfektan dilakukan desinfeksi
pada daerah orifisium
uteri eksternum dan
luka bekas tenakulum.
·
Spekulum dilepas
dan sebelum mengakhiri
pemasangan, dilakukan pemeriksaan colok
vagina untuk memastikan
bahwa seluruh IUD
sudah masuk ke dalam
rongga rahim sehingga
ujung IUD tidak
teraba lagi, serta untuk
menempatkan benang IUD pada forniks anterior vagina agar tidak memberikan
keluhan pada suami saat koitus.
·
Setelah selesai
pemasangan ditanyakan pada
akseptor, apakah cukup nyaman dan tidak merasa pusing atau sakit perut
yang berlebihan. Awasi juga keadaan umum akseptor sesudah pemasangan IUD.
TEKNIK
PENCABUTAN IUD
·
Akseptor dipersilahkan berbaring dengan posisi litotomi, tangan ada
di samping badan atau di atas kepala agar kedudukannya lebih santai dan otot
tidak tegang
·
Untuk mensterilkan daerah vulva dan sekitarnya,
dilakukan toilet dengan bahan – bahan
desinfektan. Agar tidak
mudah terkena kontaminasi
dari kulit di sekitar alat genitalia pada saat pemasangan IUD, maka dipasang
duk (kain) steril yang berlubang
·
Sesudah spekulum
dipasang dan rongga
vagina dibersihkan sehingga serviks uteri
dan benang IUD
tampak jelas, maka
benang IUD dijepit dengan klem.
Pada waktu mencabut,
benang harus ditarik
perlahan-lahan. Pencabutan yang
terlalu kasar atau
tergesa-gesa akan berakibat putusnya benang
IUD. Lebih bijaksana
pencabutan dilakukan dengan menegangkan benang IUD, dan IUD akan
tercabut dengan sebdirinya.
·
Apabila benang
IUD tidak tampak,
benang putus atau
pada waktu pencabutan dirasakan
tarikan berat, hendaknya
akseptor dikirimkan kepada dokter
yang berwenang menanganinya
lebih lanjut dengan
surat rujukan.
TINDAK
LANJUT PEMASANGAN IUD
·
Akseptor
diminta untuk datang kembali ke klinik
untuk diperiksa pada 1 minggu, 1
bulan dan 3 bulan setelah pemasangan serta
sedikitnya tiap 6
bulan sesudahnya. Tindak lanjut
ini digunakan untuk mengetahui apakah adad keluhan dari akseptor, ada
tidaknya efek samping,
ada tidaknya kegagalan (kehamilan), dan
tentu saja untuk
mengetahui apakah IUD
masih terpasang dengan baik.
·
Salah satu
cara untuk mengetahui
apakah IUD masih
terpasang adalah dengan mengajar
akseptor melakukan pemeriksaan
terhadap dirinya sendiri. Akseptor
diajar untuk memeriksa
IUD sendiri dengan
cara membasuh tangan kemudian
memasukkan jari tangannya
ke vagina hingga mencapai
serviks uteri, dan
meraba apakah benang
IUDnya masih bisa diraba,
tetapi dianjurkan agar
tidak menarik benang
IUD tertsebut.
·
Apabila benang tidak
teraba, akseptor diminta
untuk tidak melakukan koitus dan
segera datang ke klinik.
berikut adalah video pemasangan spiral:
DAFTAR PUSTAKA
1.
Soeprono, Bharoto W.
Keterampilan Terapi Pemasangan
Alat
Kontrasepsi Dalam
Rahim. Laboratorium Obstetri-Ginekologi.
Yogyakarta : Fakultas
Kedokteran UGM. 2001
2. Wiknjosastro,
Hanifa dkk. Ilmu
Kandungan. Edisi kedua.
Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2001
3. Cunningham,
MacDonald, Gant. Obstetri
Williams. Edisi 18.
Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
1995
Tidak ada komentar:
Posting Komentar